Ringkasan: Candi Borobudur, yang dibangun pada rentang abad ke-8 hingga ke-9 Masehi oleh Dinasti Syailendra, menyimpan sembilan relief kapal bercadik ganda di dindingnya. Relief ini, bersama sejumlah prasasti dari era Kerajaan Medang, jadi bukti paling kuat bahwa Nusantara sudah punya jalur dagang maritim aktif jauh sebelum era kolonial.

Apa itu Bukti Jalur Dagang di Candi Borobudur?

Peneliti arkeologi maritim mendokumentasikan relief kapal dagang kuno di Candi Borobudur.

Bukti jalur dagang di Candi Borobudur adalah sembilan relief kapal layar bercadik ganda yang terpahat di dinding candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno itu. Relief-relief ini menggambarkan kapal dagang Nusantara abad ke-8 dan ke-9, lengkap dengan tiang layar, cadik penyeimbang, dan awak kapal — detail yang oleh para arkeolog dibaca sebagai catatan visual jalur pelayaran dan perdagangan maritim kerajaan pada masanya.

Borobudur sendiri bukan monumen dagang. Ia adalah candi Buddha Mahayana. Tapi para pemahatnya, entah sengaja atau tidak, mengabadikan potongan kehidupan sehari-hari di sekitar candi — termasuk kapal-kapal yang hilir-mudik membawa barang dagangan. Itulah yang membuat relief ini berharga bagi sejarawan maritim, bukan hanya bagi sejarawan agama.

Mengapa Bukti Ini Penting untuk Dipahami di 2026?

Prasasti batu bertuliskan aksara Jawa Kuno era Dinasti Syailendra yang mengonfirmasi penanggalan Candi Borobudur tahun 824 Masehi.

Diskusi soal Borobudur biasanya berhenti di relief Karmawibhangga atau ajaran Buddha yang terpahat di dindingnya. Padahal ada sisi lain yang jarang dibahas tuntas: candi ini juga arsip visual tertua yang masih utuh soal teknologi kapal dan jalur dagang Nusantara.

Berdasarkan penelitian bentuk aksara Jawa Kuno pada panil relief Karmawibhangga, para epigraf — termasuk J.G. de Casparis — memperkirakan Candi Borobudur mulai berdiri sejak abad ke-9. Perkiraan ini didasarkan pada dua prasasti, yakni Prasasti Karang Tengah dan Prasasti Sri Kahulunan, yang dikaitkan dengan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra beserta putrinya Pramodhawardhani. Prasasti Kayumwungan bahkan mencatat proses pembangunan candi berlangsung hampir 100 tahun, dengan penyelesaian pada 824 Masehi.

Konteks waktu ini penting. Abad ke-9 adalah masa ketika kekuatan maritim di Nusantara — termasuk Kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan Kerajaan Mataram Kuno (Medang) di Jawa — sama-sama mengandalkan laut sebagai jalur ekonomi utama. Kapal yang terpahat di Borobudur bukan dekorasi acak; ia mencerminkan realitas maritim zamannya. Bagi siapa pun yang menulis atau meneliti sejarah perdagangan Nusantara pra-kolonial, relief ini adalah salah satu rujukan visual paling awal yang masih bisa diverifikasi langsung di lapangan, bukan lewat rekonstruksi teks semata.

Data Terverifikasi: Relief Kapal dan Konteks Waktunya

Dokumen penelitian komparasi peta jalur dagang kuno maritim dan relief kapal Candi Borobudur.

Tabel berikut merangkum data yang bisa diverifikasi dari sumber akademik dan pemberitaan resmi, bukan estimasi.

AspekKeteranganSumberPeriode
Jumlah relief kapal9 relief kapal ditemukan di dinding BorobudurTim Ekspedisi Maritim 2022 (TVRI News)Dipublikasikan 2022
Rentang pembangunan candiSekitar 750–840 M (perkiraan bervariasi antar sumber, dengan penyelesaian sekitar 824 M menurut Prasasti Kayumwungan)Prasasti Kayumwungan; kajian J.G. de CasparisAbad ke-8–9 M
Panjang lunas kapal Borobudur17,29 meter, lambung total sekitar 19 meter, lebar 4,25 meterRepository Universitas PGRI Yogyakarta
Replika kapal (Samudra Raksa)Dibuat 2003 oleh pembuat perahu tradisional Assad Abdullah al-Madani berdasarkan desain Nick BurninghamRepository Universitas PGRI YogyakartaDiresmikan 15 Juli 2003
Rute pelayaran replikaTanjung Priok, Jakarta → Tema, Accra, GhanaRepository Universitas PGRI Yogyakarta; detikNewsAgustus 2003 – Februari 2004
Prasasti penyebut pedagang asingPrasasti Kuti, Prasasti Kaladi (909 M), Prasasti Pal Buhan (927 M)Wikipedia — Perdagangan internasional zaman Jawa KunoAbad ke-10 M, era Medang di Jawa Timur

Catatan metodologi: Rentang tahun pembangunan Borobudur bervariasi antar sumber (750–850 M) karena metode penanggalan yang dipakai berbeda — sebagian berbasis gaya aksara pada prasasti, sebagian berbasis catatan Prasasti Kayumwungan. Artikel ini mengikuti rentang yang paling sering dikutip sumber akademik: awal pembangunan sekitar akhir abad ke-8, penyelesaian sekitar 824 M.

Bukti-Bukti Utama Jalur Dagang di Relief Borobudur

Miniatur model arsitektur perkapalan Kapal Borobudur dengan konstruksi cadik ganda dan layar tanja.

Berikut delapan bukti arkeologis dan tekstual yang paling sering dirujuk peneliti saat membahas keterkaitan Borobudur dengan jalur dagang Kerajaan Mataram Kuno.

  1. Sembilan relief kapal di dinding candi. Tim Ekspedisi Maritim 2022 mendokumentasikan sembilan relief kapal pada dinding sekitar Candi Borobudur, tersebar di beberapa panil galeri yang berbeda.
  2. Desain kapal bercadik ganda yang khas Nusantara. Kapal Borobudur adalah kapal layar bercadik ganda berbahan kayu dari abad ke-8 dan ke-9 di Nusantara, dengan turunan sejenis yang masih dipakai dalam perdagangan pesisir Jawa Timur setidaknya hingga tahun 1940-an.
  3. Detail teknis kapal yang presisi. Kapal-kapal dalam relief memiliki cadik yang tidak sepanjang lambung, tiang bipod atau tripod dengan layar tanja, tiang cucur, galeri pendayung, rumah atas, oculi atau ukiran mata, dan kemudi samping — detail yang menurut peneliti maritim tidak mungkin dipahat tanpa pemahat pernah melihat langsung kapal aslinya.
  4. Konteks perdagangan lintas kawasan yang tercatat di prasasti. Pulau Jawa di bawah kekuasaan Medang didatangi pedagang dari Asia Selatan dan Asia Tenggara daratan, dan keberadaan pedagang asing ini tercatat pada Prasasti Kuti, Prasasti Kaladi (909 M), dan Prasasti Pal Buhan (927 M) yang ditemukan di wilayah Jawa Timur.
  5. Jalur laut sebagai sarana utama hubungan regional. Hubungan antarwilayah dan internasional pada masa itu menggunakan jalur laut sebagai sarana utama, meski asal daerah para pedagang Nusantara jarang disebutkan langsung dalam prasasti.
  6. Replika kapal berhasil membuktikan kelayakan rute pelayaran kuno. Kapal replika Samudra Raksa menempuh pelayaran dari Tanjung Priok, Jakarta pada 30 Agustus 2003, hingga tiba di Pelabuhan Tema, Accra, Ghana pada 23 Februari 2004 — membuktikan kelayakan hubungan dagang bahari purba antara Indonesia dan Afrika, khususnya pesisir Afrika Timur dan Madagaskar.
  7. Rute pelayaran ini punya nama sejarah sendiri. Rute yang ditempuh diduga kuat pernah dilewati leluhur Nusantara untuk berdagang kayu manis hingga ke Afrika, dan dikenal sebagai Rute Kayumanis atau The Cinnamon Route.
  8. Ada perdebatan akademis soal asal-usul desain kapal. Sebagian sarjana India dan Belanda pernah berpendapat kapal dalam relief adalah kapal India, sebagai bagian dari teori pengaruh “Indianisasi” pada kerajaan Nusantara — pandangan yang belakangan makin banyak dipertanyakan mengingat desain cadik ganda dan sistem layar tanja lebih dekat ke tradisi maritim Austronesia.

Bagaimana Peneliti Membaca Relief Ini sebagai Bukti Dagang

Jalur sungai purba Jawa Tengah yang menghubungkan kawasan candi pedalaman dengan jaringan pelabuhan pesisir.

Menafsirkan relief candi sebagai bukti sejarah ekonomi bukan pekerjaan sekali lihat. Ada metode berlapis yang dipakai peneliti maritim dan epigraf untuk sampai pada kesimpulan bahwa kapal-kapal ini terkait jalur dagang kerajaan.

  1. Identifikasi sistem layar (sailing rig). Peneliti memetakan konfigurasi tiang, cara pemasangan layar, dan bentuk geometris layar pada tiap relief untuk mengenali jenis kapal secara teknis, bukan sekadar menilai dari bentuk lambungnya.
  2. Pencocokan dengan data tekstual. Data berupa catatan perdagangan, temuan komoditas dagang, dan prasasti yang menunjukkan jaringan perdagangan menuju wilayah pedalaman lewat sungai dipakai untuk melengkapi bukti visual dari relief.
  3. Analisis interaksi pesisir–pedalaman. Peneliti menelusuri bagaimana masyarakat pendukung Borobudur — yang letaknya di pedalaman Jawa Tengah — bisa berinteraksi dengan kapal-kapal dagang asing, mengingat candi tak berada langsung di tepi laut.
  4. Uji coba replika berskala penuh. Alih-alih berhenti di teori, tim peneliti membangun ulang kapal berdasarkan relief dan benar-benar melayarkannya. Kapal Samudra Raksa dibuat oleh Assad Abdullah al-Madani, pembuat perahu tradisional Indonesia berpengalaman, berdasarkan gambar dan model skala kecil dari kayu balsa yang dibuat Nick Burningham. Uji coba ini menjadi cara paling konkret untuk membuktikan sebuah rute pelayaran benar-benar bisa ditempuh dengan teknologi abad ke-9.
  5. Verifikasi lewat prasasti dari periode berdekatan. Karena para pedagang Nusantara umumnya tidak disebutkan asal daerahnya secara langsung dalam prasasti, kehadiran mereka hanya bisa disimpulkan secara tidak langsung dari sumber-sumber prasasti yang ada — sehingga peneliti perlu membaca lintas beberapa prasasti sekaligus, bukan mengandalkan satu sumber tunggal.

Perdebatan yang Masih Berlangsung: Kapal Siapa yang Dipahat di Borobudur?

Kajian komparatif arsitektur perkapalan membuktikan keaslian desain perahu cadik Austronesia pada relief Borobudur.

Satu hal yang perlu digarisbawahi: tidak semua sarjana sepakat 100% soal asal-usul kapal dalam relief ini. Sebagian sarjana Belanda dan India di masa kolonial menghubungkan relief itu dengan kapal India, sejalan dengan teori “Indianisasi” yang saat itu populer untuk menjelaskan pengaruh budaya di kerajaan Nusantara.

Pandangan ini belakangan makin banyak dikoreksi. Sistem cadik ganda, layar tanja, dan galeri pendayung yang terpahat di relief lebih dekat ke tradisi kapal Austronesia yang berkembang di Nusantara sendiri — bukan impor langsung dari India. Perdebatan semacam ini penting disebut, bukan disembunyikan, karena menunjukkan bahwa sejarah maritim Nusantara masih terus direvisi seiring temuan dan metode analisis baru.

Ekspedisi Samudra Raksa: Ketika Teori Diuji di Laut Terbuka

Pelayaran Kapal Samudra Raksa menempuh rute kuno Samudra Hindia dari Jakarta menuju Ghana Afrika Barat.

Bagian paling menarik dari cerita relief kapal Borobudur bukan cuma soal pahatan batunya, tapi apa yang terjadi setelahnya. Pada 2003, sebuah tim gabungan memutuskan untuk tidak berhenti pada interpretasi akademis dan benar-benar membangun kapal replika seukuran aslinya.

Kapal ini dinamai Samudra Raksa — “pembela samudra” — dan diresmikan di Pelabuhan Benoa, Bali, pada 15 Juli 2003 oleh Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Republik Indonesia I Gede Ardika bersama Philippe Delanghe, spesialis budaya kantor UNESCO Jakarta. Enam bulan berikutnya, kapal ini benar-benar berlayar.

Ekspedisi berlangsung sejak Agustus 2003 hingga Februari 2004, dimulai dari Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta yang diresmikan langsung oleh Presiden Megawati Sukarnoputri, dan berakhir di Pelabuhan Tema, Accra, Ghana, pada 23 Februari 2004. Ekspedisi ini bukan sekadar demonstrasi budaya. Ia adalah eksperimen arkeologi eksperimental — cara membuktikan bahwa teknologi kapal abad ke-9 memang mampu menempuh jarak sejauh itu, melintasi Samudra Hindia.

Pelayaran Samudra Raksa membuktikan sesuatu yang tak bisa dibuktikan hanya lewat teori: kapal bercadik Nusantara abad ke-9 sanggup menempuh rute dagang lintas benua, bukan sekadar berlayar di perairan pesisir.

Warisan Maritim Nusantara yang Berlanjut Lintas Zaman

Rempah kayu manis dan cengkih Nusantara sebagai komoditas utama perdagangan bahari The Cinnamon Route.

Jejak Nusantara sebagai bangsa maritim tidak berhenti di era Borobudur. Ratusan tahun setelah relief kapal ini dipahat, kota-kota pelabuhan di Nusantara tetap jadi simpul dagang penting — termasuk Makassar, yang kelak dibentengi kolonial Belanda lewat Fort Rotterdam untuk mengamankan jalur rempah dan komoditas dari kawasan timur Nusantara. Benteng ini, yang juga dibahas lebih detail dari sisi arsitektur dan pertahanannya dalam ulasan sejarah Benteng Fort Rotterdam, jadi pengingat bahwa pola jalur dagang maritim yang mulai terekam di relief Borobudur terus berevolusi hingga era kolonial — meski dengan aktor dan kepentingan yang jauh berbeda.

FAQ — Bukti Jalur Dagang di Candi Borobudur

Apa itu Kapal Borobudur?

Kapal Borobudur adalah sebutan untuk kapal layar bercadik ganda dari abad ke-8 dan ke-9 yang digambarkan dalam sembilan relief di dinding Candi Borobudur, Jawa Tengah. Kapal ini mencerminkan desain kapal dagang Nusantara pada masanya, bukan kapal impor.

Bagaimana cara peneliti membuktikan relief ini terkait jalur dagang?

Ada beberapa langkah: 1) mengidentifikasi sistem layar dan konfigurasi tiang pada tiap relief, 2) mencocokkannya dengan prasasti yang mencatat kehadiran pedagang asing, 3) menganalisis interaksi wilayah pesisir dan pedalaman, dan 4) menguji teori lewat pembuatan serta pelayaran kapal replika seukuran aslinya.

Kapan Candi Borobudur dibangun?

Berdasarkan gaya aksara pada relief Karmawibhangga dan Prasasti Kayumwungan, pembangunan Borobudur diperkirakan dimulai akhir abad ke-8 dan selesai sekitar 824 Masehi, pada masa Dinasti Syailendra di bawah Kerajaan Mataram Kuno (Medang).


Ditulis oleh Tim Redaksi Studi Sejarah.

By Olivia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *