Ringkasan: Hari Kunjung Perpustakaan lahir dari surat Kepala Perpustakaan Nasional RI kepada Presiden Soeharto pada 11 Agustus 1995. Tanggal 14 September dipilih sebagai hari peringatan tahunan. Tiga puluh tahun kemudian, datanya menunjukkan cerita yang lebih rumit dari sekadar angka naik terus.

Apa itu Hari Kunjung Perpustakaan?

14 September Hari Kunjung Perpustakaan: Sejarah, Data Literasi, dan Cara Merayakannya

Hari Kunjung Perpustakaan adalah peringatan nasional setiap 14 September yang mendorong masyarakat Indonesia datang ke perpustakaan. Peringatan ini pertama kali dicanangkan pada 1995, di masa pemerintahan Presiden Soeharto, dan jatuh dalam rangkaian Bulan Gemar Membaca.

Bukan sekadar seremoni tahunan, hari ini punya asal-usul yang tercatat rapi lewat arsip surat resmi kepresidenan.

Sejarah: Dari Surat Nomor 020/A1/VIII/1995

14 September Hari Kunjung Perpustakaan: Sejarah, Data Literasi, dan Cara Merayakannya

Gagasan ini datang dari Mastini Hardjoprakoso, Kepala Perpustakaan Nasional RI yang pertama. Ia mengusulkan pencanangan Hari Perpustakaan kepada pemerintah.

Usulan itu dituangkan dalam surat Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 020/A1/VIII/1995, tertanggal 11 Agustus 1995, yang ditujukan kepada Presiden Soeharto. Surat tersebut mengusulkan agar 14 September ditetapkan sebagai Hari Kunjung Perpustakaan. Soeharto menyetujuinya, dan tanggal itu resmi diperingati pertama kali pada tahun 1995 juga.

Menurut laman resmi Perpusnas RI, tujuan penetapan ini adalah mendorong gerakan intelektual di Indonesia lewat penyebaran budaya membaca pada generasi muda. Konteks historisnya juga penting: pada era 1960-an, kalangan lembaga literasi luar negeri seperti Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) di Belanda mulai aktif mengoleksi terbitan Indonesia di bidang ilmu sosial dan humaniora, tanda bahwa dunia menaruh perhatian pada produksi pengetahuan Indonesia jauh sebelum hari peringatan ini ada.

Kalau bicara soal dokumen bersejarah yang nyaris hilang sebelum akhirnya diselamatkan dan diarsipkan, naskah asli teks proklamasi punya cerita serupa — sempat dibuang sebelum ditemukan kembali dan menjadi koleksi nasional yang tak ternilai.

Kenapa Hari Ini Masih Relevan di 2026?

14 September Hari Kunjung Perpustakaan: Sejarah, Data Literasi, dan Cara Merayakannya

Alasan Hari Kunjung Perpustakaan dicanangkan pada 1995 sebenarnya soal kekhawatiran: rendahnya angka melek huruf dan kebiasaan membaca masyarakat Indonesia saat itu. Tiga dekade berjalan, kekhawatiran itu belum sepenuhnya hilang, meski datanya sudah jauh lebih kaya.

Perpusnas mencatat Indeks Budaya Literasi Nasional naik dari 54,29 pada 2021 menjadi 60,49 pada 2023. Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) nasional juga naik dari 55,74 pada 2020 menjadi 72,44 pada 2024, menurut keterangan resmi Perpusnas RI.

Tapi angka itu perlu dibaca hati-hati. Perpusnas mengubah instrumen pengukuran TKM pada 2025 untuk memperbaiki validitas datanya. Hasilnya, TKM nasional 2025 yang diumumkan Maret 2026 tercatat di angka 54,8 — jauh di bawah angka 2024 dengan metode lama. Perpusnas menegaskan angka pasca-perubahan metodologi ini tidak bisa dibandingkan lurus dengan angka tahun-tahun sebelumnya.

Survei lain memberi gambaran yang lebih blak-blakan. Survei GoodStats bersama GNFI pada 2025 menemukan hanya satu dari lima responden yang membaca buku setiap hari, sementara 15,4% mengaku jarang membaca sama sekali. Ironisnya, gedung Perpusnas RI di Jakarta justru dinobatkan sebagai gedung perpustakaan tertinggi di dunia oleh MURI pada 8 Januari 2024, dengan tinggi sekitar 126,3 meter dan 27 lantai.

Kesenjangan antara gedung tertinggi di dunia dan minat baca yang masih rendah inilah yang membuat Hari Kunjung Perpustakaan tetap relevan — bukan cuma soal gedung megah, tapi soal kebiasaan yang harus terus didorong.

Data Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Nasional

14 September Hari Kunjung Perpustakaan: Sejarah, Data Literasi, dan Cara Merayakannya
TahunTKM NasionalCatatanSumber
202055,74Metode lamaPerpusnas RI
202472,44Metode lama, sebelum revisi instrumenPerpusnas RI
202554,8Metode baru (direvisi untuk validitas & reliabilitas)Perpusnas RI, diumumkan Maret 2026

Perbedaan tajam antara angka 2024 dan 2025 murni soal perubahan cara ukur, bukan penurunan minat baca dalam semalam. Perpusnas sendiri mewanti-wanti agar publik tidak menarik kesimpulan keliru dari lompatan angka ini.

Kalau tertarik menelusuri bagaimana sebuah bangsa merawat arsip pengetahuannya lewat jalur perdagangan dan peradaban kuno, jejak Candi Borobudur sebagai bukti jalur dagang lintas benua juga menunjukkan pola serupa: pengetahuan selalu mengalir lewat jaringan, bukan sekadar gedung.

Cara Merayakan Hari Kunjung Perpustakaan

14 September Hari Kunjung Perpustakaan: Sejarah, Data Literasi, dan Cara Merayakannya
  1. Kunjungi perpustakaan terdekat. Bisa perpustakaan umum daerah, perpustakaan sekolah, kampus, atau perpustakaan desa.
  2. Buat kartu anggota jika belum punya. Sebagian besar perpustakaan daerah menerbitkannya gratis.
  3. Ikuti program literasi yang tersedia. Banyak perpustakaan menggelar pameran, seminar, atau lomba bertema literasi sepanjang September, bulan yang juga diperingati sebagai Bulan Gemar Membaca.
  4. Manfaatkan layanan digital. Perpusnas melaporkan lebih dari 30 juta akses daring ke aplikasi seperti iPusnas, Khastara, dan Indonesia OneSearch pasca-pandemi.
  5. Ajak keluarga atau komunitas. Kebiasaan membaca lebih mudah menular lewat lingkungan terdekat ketimbang imbauan resmi.

Kalau butuh alasan tambahan untuk mampir ke rak fiksi, cerita di balik buku klasik sering lebih liar dari yang dibayangkan — termasuk asal-usul kisah nyata di balik Alice in Wonderland, yang jauh lebih gelap dari versi dongeng anak-anaknya.

FAQ — Hari Kunjung Perpustakaan

Kapan Hari Kunjung Perpustakaan pertama kali diperingati?

Pada 14 September 1995, setelah Presiden Soeharto menyetujui usulan Kepala Perpustakaan Nasional RI.

Siapa yang mengusulkan Hari Kunjung Perpustakaan?

Mastini Hardjoprakoso, Kepala Perpustakaan Nasional RI yang pertama, lewat surat Nomor 020/A1/VIII/1995 tertanggal 11 Agustus 1995.

Apakah Hari Kunjung Perpustakaan sama dengan Bulan Gemar Membaca?

Tidak sama, tapi berdekatan. Hari Kunjung Perpustakaan adalah peringatan satu hari pada 14 September, sedangkan Bulan Gemar Membaca berlangsung sepanjang September sebagai kampanye literasi yang lebih luas.

Apakah minat baca Indonesia sudah membaik sejak hari ini dicanangkan tahun 1995?

Datanya bercampur. Indeks literasi nasional Perpusnas menunjukkan tren naik dari 2020–2024, tapi revisi metodologi pengukuran pada 2025 membuat angka TKM turun tajam ke 54,8, dan survei independen seperti GoodStats masih mencatat minat baca harian yang rendah.


Ditulis oleh Redaksi Studi Sejarah.

By Olivia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *